Apa Bentukan Hidup Sustainablemu?

Bentukan hidup sustainable itu ada punya beberapa tipe yang bisa saling menggantikan atau tumpang tindih atau terintegrasi:

1. Homesteading
2. Zero Waste
3. Hidup Sederhana
4. Hidup Minimalis


Saya jelaskan di bawah ini satu persatu:

1. Homesteading
adalah cara hidup mengadopsi cara-cara tradisional yang lebih selaras alam, seperti menumbuhkan panganmu sendiri, reduce, reuse, recycle, DIY, beternak, perekonomian rumah, mengusahakan air bersih dan listrik sendiri, homeschool, dan semua pengusahaan kebutuhan hidup dipenuhi semaksimal mungkin dari lingkup rumah.

Dimana kamu bisa mengusahakan Hidup Berhomesteading?
Di apartemen atau rumah mungil/sempit di kota
Di rumah kota dengan sedikit lahan (seperti kami dulu hingga untuk kehidupan staff GMS saat ini)
Di rumah pinggiran kota dengan lebih banyak lahan
Di rumah desa dengan lebih banyak lagi lahan

Di pedalaman dengan lahan luas (seperti kami)

2. Zero Waste
adalah cara hidup untuk semaksimal mungkin mengurangi sampah apapun bentukan sumber sampahnya.

Dimana kamu bisa mengusahakan Hidup Zero Waste?
dimana saja kamu tinggal atau bahkan berkegiatan di kehidupanmu, di kantor, di perjalanan, di rumah dengan lokasi manapun.

3. Hidup Sederhana
adalah cara hidup untuk secara berkesadaran hidup dengan lebih sedikit barang, menyederhanakan cara dan kebutuhan hidup yang tidak penting, hidup dengan skala prioritas yang lebih bijak, dengan hasil rumah yang lebih lapang, waktu yang lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang lebih bermakna.

Dimana kamu bisa mengusahakan Hidup Sederhana atau Simple Life?

Dimana saja, kamu tinggal.

4. Hidup Minimalis
adalah cara hidup dengan sesedikit mungkin barang fisik.

Dimana kamu bisa mengusahakan Hidup Minimalis?
Dimana saja kamu tingga atau berkegiatan.

Sekarang,
Kita lihat cara hidup mana yang memiliki potensi terbesar untuk mengurangi jejak karbon yang artinya hidup secara sustainable?

Ada yang bisa menebak?
Jawabannya adalah Hidup dengan cara BerHomesteading.

Sekarang,
Mungkin kamu akan membayangkan bahwa kata “homestead” yang tidak lazim di Indonesia pasti konotasinya adalah seperti film “Little House on The Prairie”nya keluarga Inggals kan?

Dimana kehidupan keluarga hidup di desa, berkebun, beternak, dengan lahan luas, dll (ehemm, atau jika kalian mengikuti perjalanan kami, kalian pasti terpatok pada (harus tinggal jauh di pedalaman atau punya tanah luas).

Tidak ada yang salah dengan “homestead” versi kami. Ini mungkin jadi mimpinya banyak orang yang ingin hidup sustainable semaksimal mungkin.

Tapi,

Bagaimana jika kamu adalah satu dari ratusan juta masyarakat Indonesia yang,
Hidup di kota atau pinggiran kota di rumah sempit tanpa halaman dengan semua area bersemen?
Tinggal di apartemen dengan balkon?
Rumahnya punya sedikit halaman bertanah?
Tinggal di desa dengan area kebun yang terpisah dari rumah?

Apa yang harus kamu lakukan untuk bisa hidup sustainable semaksimal mungkin?

Saya yakin, teman-teman yang membaca tulisan ini punya mimpi untuk hidup selaras alam, sesustainable mungkin.

Coba tuliskan mimpimu disini……(tidak peduli dimana kamu hidup saat ini)

Mengapa?
Karena hidup berhomestead itu sebenarnya adalah …………. (ingat ini adalah petualangan hidup berkelanjutan to the fullest InshaAllah).

Saya cinta tempat dimana kami hidup,
Tapi kami sekeluarga sadar ini bukan lokasi homesteading terbaik.
Disini lahannya berteras curam (kami hidup di atas bukit di area pegunungan di ketinggian sekitar 1100-1200dpl), cuacanya dingin, curah hujan tinggi, tingkat kelembapannya sangat tinggi, hijauan rumput dan semak belukar lebih cepat tumbuhnya dari usaha kami untuk menjaganya agar terkendali dan tidak menutupi bibit pohon buah kami.

Tapi kami berusaha untuk menjadikan kondisi ini sukses untuk kami bisa hidup sustainable semaksimal mungkin. Kami belajar untuk menghasilkan yang terbaik dari apa yang kami miliki dan puas dengan apa yang ada.

Sekarang giliranmu,
Coba isi pertanyaan ini sesuai kondisimu saat ini:

Kamu adalah….
“City Homestead?”
atau
“Apartment Homestead?”
atau seperti kami saat ini
“Mountain Homestead”
atau seperti kami sebelum 8 tahun yang lalu
“City/Urban Homestead”

Kalian harus bahagia dengan situasimu saat ini, dan mengusakan yang terbaik darinya!

Kenyataannya,
Dengan memiliki farm-perkebunan-peternakan bukan jaminan bahwa kamu mengusahakan hidup yang sustainable atau membuatmu menjadi homesteader.

Hidup berhomestead dimanapun tempat tingalmu itu adalah filosofi dan semangat untuk kita hidup lebih sederhana, lebih selaras alam, lebih sehat dengan cara yang alami dengan semaksimal mungkin mengusahakannya sendiri dari rumah dengan apa (sumberdaya) yang kita miliki.

Berhomestead dengan tujuan hidup yang self reliance dan sustainable itu adalah lebih dari sekedar ukuran tanahmu atau ukuran kebunmu, tetapi ini tentang mentalmu untuk mengusahakan kualitas hidup yang lebih baik dengan membawa kebaikan pada bumi dan generasi sesudahnya.

Hidup berhomestead itu punya banyak sisi dan cara,
Mau kamu tinggalnya di rumah kota dengan menanam sayuran di beberapa buah pot saja, atau tinggal di apartemen dengan bercocok tanam di balkon atau membuat kecambah sendiri atau roti sendiri, atau yang tinggal di rumah dengan lahan membuat sistem komposting, bahkan mencari supply sayuran organik, dan bahan pangan lainnya dari sumber lokal adalah semangat dan jiwa berhomestead.

Berhomestead itu juga termasuk menyederhanakan hidup untuk bisa melakukan hal-hal yang lebih sustainable dalam berkehidupan, termasuk juga decluttering toxic, declutter rumah, dan mengevaluasi apa yang penting dikehidupan ini (and after life, if you are muslim like me).

Nah,
Sekarang kalian sudah mengerti kan,
Tentang apa bedanya cara-cara hidup untuk hidup sustainable,
Dan kamu dengan semangat dan jiwa ingin hidup selaras alam, sustainable sekecil atau sebesar apapun dengan semaksimal mungkin mengusahakannya dari rumah dan keluarga itu adalah HOMESTEADER,

Pertanyaan terbesar saya sekarang,
Apa yang kamu pelajari dari refleksi ini, tentang bagaimana kamu bisa puas dan bahagia dengan dimana kamu tinggal saat ini dengan semangat berhomesteadmu?


Leave a Comment