Persepsi Di seputar Homesteading

By / 22nd January, 2021 / Memulai Homestead / No Comments

Tulisan ini datang dari hati yang capek, dan pikiran yang tergelitik, yang membuat saya harus angkat suara!

Nggak peduli seberapa kita menjadi lebih bijak, berpengalaman, menua, dll.. Tetap saja ada hal di masyarakat, insting bawaan (mungkin), dimana kita harus masuk ke group tertentu untuk cocok berada disuatu golongan, tempat, dll..

Sesekali pemikiran ini muncul di benak saya..
Ini macam kalau di sekolahan, anak-anak yang populer, mereka yang suka baca, dll, akan terlihat duduk, hang out bersama dan klik pastinya.

Nggak peduli usia kita saat ini,
Rata-rata dari kita masih memiliki keinginan untuk jadi bagian dari ……

Entah itu sebagai
Identitas
Label
Kebanggaan
Agar tidak merasa sendiri
Dukungan

Kuat sekali hal ini mendorong kita (tanpa kita rasakan)

Kalau mau jujur,
Saya tidak pernah klik, fit in, dimanapun.
Dan begini ini adanya saya sejak kecil.
Terkadang itu adalah pilihan saya
Kala lainnya, rasanya nggak nyaman aja untuk terabaikan.

Dan setelah berdekade-dekade lamanya menjalankan kehidupan diri ini, dengan menjadi pikir orang “aneh”, nggak masuk ke group manapun nggak cocok di komunitas atau golongan apapun, itu kemudian jadi identitas siapa saya, (termasuk juga keluarga saya). Tapi inilah yang kemudian membentuk kehidupan saya dan kami sekeluarga ke homesteading, usaha ramah lingkungan Green Mommy Shop, dan socialpreneurship (terminologi kekinian).

Seriusan, saya nggak nyesal, karena semua ini jadi sesuatu yang terbaik untuk kami sekeluarga.

Berhomestead,
memberikan saya kebebasan untuk menikmati dan menjalani hal-hal diluar apa yang lazim dikerjakan orang lain atau cara menjalani hidup sebagaimana layaknya masyarakat modern.Termasuk juga menjalani dorongan hati dan pikiran sebagai multipassionate woman.

Ngomongin tentang Homesteading, dan hidup seperti apa yang kami inginkan buat kami itu:
Tentang mengambil alih tanggung jawab kesehatan atas diri sendiri bukan oleh orang lain
Tentang mengambil alih kemandirian pangan dari pasar ke rumah tangga
Tentang menjalani hidup yang lebih bermakna versi kami sendiri, dengan tidak ikut-ikutan trend modernisasi atau lifestyle kekinian dan berlomba-lomba yang tidak ada habisnya.

Kalau dibandingkan kehidupan kami dengan kehidupan orang jaman dulu, gayanya nenek moyang atau homesteader di negara asalnya, jelas homestead kami berbeda cara dan nuansanya dan pun mungkin alasannya agak berbeda.

Mungkin kalian bertanya,

* Orang jaman dulu kan makannya mbote (talas), singkong, kami kok makannya kari kacang hijau
* Orang jaman dulu masak ya di kayu bakar, kami kok masaknya pake solar oven, klo matahari tak bersinar dan lagi ribet, ya pake elpiji.
* Orang jaman dulu nggak beli makanan di toko, kami mengapa masih beli tepung whole wheat?
* Seriusan, ituuu berhomestead pake high speed blender?? ngulek kan ramah lingkungan!

Kalau dipikir,
meski Homestead itu muncul dari mereka-mereka yang ingin hidup lebih mandiri dan bebas dengan berbagai macam alasan kala itu, tetap saja seperti ada persepsi kalau homestead itu seperti apa berjalannya.

Ada banyak dari kalian disini,
Kalau mendengar kata homestead saja, kalian mikirnya “Mana mungkin saya bisa jadi homesteader” karena segala macam stereotype atau persepsi yang sudah terbentuk sebelumnya.

Girls,
Saya ringankan hatimu (dan hati saya juga)
Saya, kami sekeluarga adalah homesteader dengan gaya kami sendiri.

Bagaimana Homestead Gaya kami itu?
* Dimusim kemarau, kalian bakal melihat saya, berjalan-jalan disekitar rumah dengan sandal jepit bukan boots.
* Kalian akan melihat saya berkebun sambil bawa HP
* Kami punya banyak alat listrik untuk pertukangan, listrik, termasuk alat dapur listrik (meski super jarang dipakai terutama di musim hujan kala matahari malu-malu untuk bersinar dan mencharge baterai dari tenaga surya kami)
* Kami tidak selalu membeli bahan makanan organik, mana-mana yang bisa didapatkan ya beli, jika tidak dapat ya beli apa yang tersedia
* Kami masih membeli sebagian bahan makanan seperti sayuran di pasar, karena ada yang tidak bisa kami tumbuhkan atau ketika saya gagal panen/malas, dll
* Dihari-hari yang super sibuk dengan Green Mommy Shop, saya bahkan tidak mengecek grow bed atau green house, terutama di musim hujan, dan grow bednya pakai wicking bed membuat saya terkadang malas untuk ke kebun.
* Ada kalanya saya ngerjain banyak project homesteading seperti membuat pickles, canning, dll dan ada kalanya saya nonton documentaries atau Star trek Discovery (my number one fav series at the moment, setelah Seri Imam Ahmad ibn Hanbal habis masa tayangnya dan Sherlock Holmes versi yang British selesai).

Apa kalian sudah lega?
Saya iya.. 🙂

Saya cinta dengan apa yang kami jalani, berhomestead gaya kami ini.
Dan saya, nggak mungkin akan 100% berhomestead gaya homesteader pioneer jaman dulu.
Saya akan menjalani apa yang kami jalani sebaik mungkin versi kami, bukan versi homesteader lain.

Girls, semoga kalian juga akan mengijinkan dirimu untuk menjadi oke dan puas dengan pilihan berhomesteadmu, meski itu tidak seperti Little House On The Prairie atau Captain Fantastic.

Kita nggak perlu untuk membanding-bandingkan, (bandingkan itu sama diri sendirilah).
Nggak perlu merasa kewalahan karena ada yang harus kita realisasikan hanya untuk disebut homesteader.

Perjalananmu berhomesteadmu adalah milikmu
Kemenangan homesteadmu adalah milikmu juga

Kebahagiaan berhomestead juga sepenuhnya punyamu


Leave a Comment