My Planner

By / 3rd June, 2020 / Organization / No Comments

Seringkali saya ditanya teman-teman di sosial media atau di Malang (real friends yang bisa meluk saya), tentang tips organization atau ide seputar produktifitas yang nggak bikin burn out atau kewalahan/stress.

Saya kaget juga awal-awalnya dulu, kenapa ditanya tentang bagaimana saya merencanakan hari-hari saya.

Dulunya saya mau nyuekin aja ide tentang sharing planner karena selama bertahun-tahun planner saya itu super sederhana dan nggak fancy sama sekali. Karena planner saya cuma buku tulis biasa!.

Seiring waktu, saya yang selalu nyari cara untuk lebih organized seiring keluarga bertambah (nambah anak, nambah kerjaan baik GMS maupun rumah tangga termasuk berkebun dan homesteadingnya) saya jadi butuh planner yang lebih pintar, yang bisa bikin saya fokus nggak terdistraksi disepanjang hari (jelaslah namanya distraksi itu alami, tapi antara keganggu sepanjang hari dan sesekali itu yang membedakan kualitas hidup kita kan?). Please say kalian setuju dengan saya.

Oke, saya tunjukin planner terbaru saya di bulan Juni ini.

Heart Work Planner (Planner yang fokus pada prioritas tapi masih bikin kalian keep in touch dengan hatimu, saya lebay banget kan?).

Saya pernah nyoba digital planner jaman awal-awal ada Evernote, tapi sepertinya saya bukan tipe digital, “nggak lega klo nggak megang pen and paper). Evernote masih saya pakai untuk taking notes saja.

Saya jujur nggak pernah nyoba fancy planners, karena nggak ada yang cocok dengan ritme kehidupanku dan kebutuhan hati, jiwa, ragaku dan mimpiku.

Berkali-kali saya kembali menggunakan notebook sederhana saja. Tapi itu bikin saya kurang organized, dan harus berkali-kali menulis hal yang berepetisi tapi berbeda.

Sekitar 5-6 tahun yang lalu saya nemu Buller Journal, dan rasanya fall in love deh, karena mengkombinasikan antara banyaknya catatan harianku, to do listku yang nggak fleksibel, dan migrasi. Tapi ini juga bikin saya ngabisin banyak waktu untuk nulis migrasi bulanan, dan saya jadi on and off dengan planner ini.

planner harian

Akhirnya saya nyoba bikin printed planner sendiri.
Dan mulai saat itulah saya lebih terarah, lebih organized dan mengerjakan hal-hal yang saya senangi yaitu mengisi planner tanpa harus nulis, bisa fokus, dan bergerak maju benar-benar bergerak maju, nggak sebatas crossing check list to do list saja.

Evolusi per bulan Juni ini entah sudah Planner 10.1 sepertinya.
Di planner yang saat ini dia:
Menata hariku dari bangun sampai tidur
Menata hatiku
Menjaga jika saya terpeleset
Mengingatkanku tentang Allah dengan cara yang super sweet, jadi harus nulis soalnya.
Ngingatin Project (kali-kali lupa)
Ngingatin belajar
Ngingatin deadline
Ngingatin rencana mingguan
Bisa melihat view bulanan
Tahu ada apa InshaAllah dalam 1 tahun itu

Cukupkan planner itu buat saya?
Tidaklah…
Lha dimana saya bisa mencatatkan meeting, ide, atau pesan dari orang lain yang banyaknya se RT itu? Saya dibantu oleh asisten saya, si NOTEBOOK sederhana. Dia berfungsi untuk:
Nulis daftar belanja rumah tangga
Meeting
Pesan dari orang lain yang agak panjang kalau dimasukin ke to do list atau harus di proses dulu apa take awaynya
Ide, dan semua lainnya.

Setiap pagi, atau di malam hari sebelum tidur (seringan malam) saya mengisi Heart Work Planner, melihat notebook dan memindahnya di project folder, atau ke HW Planner. Jika ada hal yang tidak selesai hari itu, saya pindahkan ke keesokan harinya, atau saya jadwalkan kembali atau saya coret jika tidak relevan lagi untuk kemudian tidak dilakukan. Saya juga memastikan untuk mengisi review harian atau reminder harian dan mengisi apa-apa saja yang ada deadline di 1 minggu ke depan (ini temuan super penting dan bikin saya nggak kewalahan).

heart work planner

Sesederhana itu saja!

Bagaimana kalian mengatur hari-hari kalian?
Apa planner yang kalian gunakan?

Girls, kali-kali kalian tertarik dengan HW Planner yang saya gunakan, edisi kuartal ketiganya akan mulai dijual di akhir Juni nanti edisi bulan Juli – September.



Leave a Comment